Skip to main content

3 Phobia yang Paling Sering Dialami Banyak Orang


Fobia (Phobia) merupakan gangguan kecemasan dan rasa takut berlebihan yang dialami oleh seseorang terhadap situasi atau objek tertentu.

Berikut 3 fobia yang paling sering dialami oleh banyak orang dan bukan hanya rasa takut biasa.

1. Acrophobia (takut pada ketinggian)

Orang yang memiliki fobia ini akan merasa kecemasan yang berlebih saat berada di ketinggian.

Acrophobia dapat disebabkan oleh beberapa pengalaman traumatis yang melibatkan ketinggian, seperti pernah jatuh dari tempat yang tinggi, menyaksikan orang lain jatuh dari tempat tinggi, atau mengalami pengalaman negatif lainnya saat berada di tempat tinggi.

2. Tryphanophobia (takut pada jarum suntik)

Uniknya, ternyata faktanya tidak hanya anak kecil yang takut jarum suntik. Orang dewasa pun bisa mengalaminya, biasanya mereka yang memiliki fobia ini akan membayangkan rasa sakit saat jarum menembus kulit.

Faktor yang menyebabkan trypanophobia bisa disebabkan trauma masa lalu atau faktor keturunan. Seseorang yang mengalami fobia ini akan mengalami kecemasan berlebihan seperti peningkatan detak jantung, naiknya tekanan darah, bahkan bisa membuat pingsan.

3. Social phobia (takut pada keramaian)

Mereka dengan fobia ini, berusaha keras untuk menghindari situasi publik. Dilansir Healthline, social phobia juga disebut sebagai gangguan kecemasan sosial. Ini sangat mengkhawatirkan dalam berbagai situasi sosial, bahkan dapat menyebabkan pengidapnya melakukan isolasi diri.

Fobia sosial yang sangat parah dapat terjadi mulai dari interaksi yang paling sederhana, seperti memesan makanan di restoran atau menjawab telepon pun bisa menyebabkan kepanikan.

Masih banyak lagi jenis fobia lainnya dan sebaiknya jika kamu atau orang terdekatmu memiliki gejala tersebut, segera konsultasikan ke psikolog atau ahlinya untuk mendapat penanganan yang tepat.

(Adelia Risna Putri Limbong / Politeknik Negeri Jakarta)

Comments

Popular Posts

Tips Sederhana Mahir Berbahasa Inggris

Sebagai makhluk sosial, bersosialisasi merupakan kegiatan yang sudah sewajarnya dilakukan. Kemampuan berkomunikasi dengan bahasa yang umumnya orang pahami adalah salah satu hal yang dibutuhkan seperti bahasa Inggris. Berdasarkan pantauan media sosial saat ini, banyak ditemukan celetukan komentar viral dari khususnya kalangan remaja yang menggunakan kalimat “nggak bisa bahasa enggres” hampir di setiap kiriman media sosial yang mengandung konten bahasa Inggris. Nah, bagi kamu yang merasa masih kurang dalam berbahasa Inggris dan ingin mengasah kemampuan bahasa Inggris, kamu bisa mencoba tips sederhana mahir berbahasa Inggris berikut loh! Yuk simak! 1. Mendengarkan lagu bahasa Inggris Kamu bisa dengan perlahan belajar berbahasa Inggris dengan mendengarkan lagu barat. Bagaimana caranya? kamu bisa mendengarkan musik sambil melihat lirik lagunya dan kemudian mengartikannya ke dalam bahasa Indonesia. Saat ini sudah banyak aplikasi handphone maupun laptop/PC yang menyediakan fitur lagu denga...

Perlu Self Healing Saat Pandemi Covid-19, Mengapa?

Self healing merupakan proses penyembuhan diri sendiri terhadap luka batin, mental, trauma ataupun salah satunya stres. Pandemi Covid-19 sering menyebabkan orang memiliki gangguan mental dan self healing seharusnya adalah cara yang dilakukan diri sendiri untuk mengobati diri saat pandemi ini. Dewasa ini, tidak sedikit dari netijen yang mencurahkan isi pikirannya di media sosial miliknya sendiri. Media sosial kini menjadi tempat yang penuh dengan apa yang sedang dirasakan oleh mereka yang stres karena dibatasi untuk melakukan kegiatan di luar rumah atau stres karena banyak hal yang dipicu oleh Covid-19. Menurut Tren Digital, ternyata pengguna aktif media sosial selama pandemi Covid-19 memang meningkat. Mulai dari orang yang senang mengeksplor media sosial untuk mencari informasi ter-update dan tidak bisa dipungkiri ada pula sebagian orang yang hanya mengeluarkan isi kepalanya dan memancing orang yang melihat hal tersebut bisa ikut merasakan emosi. Semua hal yang berkaitan dengan media ...

Dibukanya Kembali Museum PETA Bogor, Pengunjung Masih Dibatasi

  Museum Pembela Tanah Air (PETA) yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman Nomor 35 Bogor telah dibuka kembali yang setelah sekian lama ditutup karena peraturan objek wisata di Bogor dilarang buka saat pandemi covid-19. Tempat tinggal para pengawal dan pegawai gubernur jenderal di masa kolonial yang sekarang disebut sebagai Museum PETA ini dibuka kembali dengan spanduk syarat protokol kesehatan yang dipasang di depan pagar museum. Tujuan dibuka kembali museum ini adalah untuk tetap memberi tempat sebagai edukasi dan memperluas informasi wawasan kebangsaan. “Museum PETA ini dibuka pada saat level PPKM tingkat tiga,” ujar Santo, Pengaman Museum PETA. Namun dibukanya kembali museum ini menjadikan pihak museum yang meningkatkan keamanan tempatnya. Santo menjelaskan peningkatan keamanan yang dilakukan adalah dengan pembatasan pengunjung. “Untuk tingkat keamanan disini, kita melakukan kegiatan pembatasan pengunjung untuk meminimalisir dengan adanya pandemi saat ini,” tegasnya. Ditutupnya...